Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2011

AKU BELAJAR DARI HUJAN (PUISI)

Aku belajar dari hujan
Tentang bagaimana menyapa bumi

dan dari hujan
aku temukan kedamaian, rintik seakan menggelitik kerinduan ini
rindu akan kemesraan di sudut hari bersama
di ujung daratan yang terpecah oleh ombak

Aku belajar dari hujan
Tentang bagaimana meneduhkan hari

dan dari hujan
aku rasakan ketenangan, deras seakan menguras lamunanku
lamunan akan senyumanmu di ujung senja
di bawah rindang pepohonan
teduh, berteduh, meneduhkan

Aku belajar dari hujan
Tentang lemahnya menapak rasa

dan dari hujan
aku mengenalmu, gerimis seakan mengiris siluet bayangmu
dari kejauhan, aku layangkan sejuta tanya
apakah kau merasakan hal yang sama kasih???

Minggu, 13 November 2011

MI, RINDU

Lentera malam mulai bersumbu,
retak cadas jalanan malam berbuka!!
lewat alun lembut desah suara jangkrik, aku titipkan selaksa rindu.
"Mi, bukan ranjau yang meledak di antara panasnya asmara, bukan pula belati yang berkacak menghujam ulu hati, tapi rindu ini bak nanar malam merindu pada sinar rembulan"
Penat seperti lenguhan hewan malam, ya lenguhan para pengais jalanan malam.
tapi rinduku ini tak penat karenanya,
Biar kokok ayam terdengar, namun rindu ini terpatri dalam langkah para malaikatt pembagi rizki.

ya, rindu ini hanya untukmu mi.
Kalang kabut dan kalang rindang bersolek di depan cermin malam, tapi tak secantik dan semolek rinduku padamu.

KITA-SAMA-SURGA

Kulihat pagi datang membelah ufuk timur

Heningnya terpecah oleh suara senapan

Kudengar jerit seseorang,Kulihat dia tersungkur, Tak seorangpun peduli



Kulihat seorang wanita renta

Dia menengadahkan tangannya seraya berdoa ” Kembalikan dia, biarkan dia hidup, jangan ambil nyawanya”

Pernahkah kau bertanya pada hatimu yang terdalam??

Adakah surga di langit??

Kenapa kita tak bisa mendapatkannya??



Tahukah bahwa kita hidup di bawah matahari yang sama, dengan sinarnya datang menyapa pagi??

Dan tahukah kita jikalau kita pun berjalan di bawah sinar bulan yang sama di kala malam??

Lalu kenapa?? Kenapa meragukan keberadaanNya??



Kulihat malam menjelang dengan sinar bulan memecah gelap

Dan tak terlihatkah bayanganmu pecah karenanya???

Dan jauh di balik bayangan rerindangan pohon nampak olehku tubuh tak berdaya, berbalut kain tipis

Sudahkah kita memilah sejengkal harta kita??

Pernahkah kau bertanya pada hatimu yang terdalam??

Adakah surga di langit??

Kenapa kita tak bisa mendapatkannya??



Kadang terpikir olehku bahwa aku telah gila

Gila oleh dunia, kehilangan apa yang kita miliki merupakan bencana

Dan tak ada yang peduli

Namun tahukah kamu bahwa nuraniku tak berubah??

Maka berilah cintamu pada dunia, Senyummu untuk semua

Dan apakah benar-benar penting??

Entah di atas sana ada surga ataupun tidak, tetaplah engkau mencinta dengan cintaNya.



Sekali lagi..

Tahukah bahwa kita hidup di bawah matahari yang sama, dengan sinarnya datang menyapa pagi??

Dan tahukah kita jikalau kita pun berjalan di bawah sinar bulan yang sama di kala malam??

Dan tahukah kita jikalau diatas kepala kita adalah langit yang sama, langit yang agung dengan birunya

Atau tahukah kita saat mata menatap kearah bintang yang gemerlapan di angkasa, bintang itupun bintang yang sama, bintang yang indah dengan pantulan sinarnya

Lalu kenapa?? Kenapa kita tetap meragukan keberadaanNya??

ENTAH, MAU , MAMPU

Entah pikiran ini mengalir pada dimensi pongah..
Atau congkak..
Biar..
Lembayung pun tak menggubris rayuan air siang ini..
Tak malukah kau dengan mereka yang menahan lapar di balik senyum tulus itu?
Apakah sama denganmu?
Tertawalah.. Tak tahukah kau, mereka berjuang dengan sebelah hati tersayat kepedihan?
Dan apa yang kau lakukan?
Tak lebih hanya merengek merendah dan meminta, jangan kau jual segala dayamu hanya untuk recehan ini.
Tahukah kau, tak pantas kau lakukan itu, nilai hati dan tubuh kekarmu itu lebih, ya, lebih dari sekedar recehan.

Entah, kau mendengarku atau tidak, biarlah kenari hinggap di dahan linden, daripada harus mengais tanah yang tandus tak bertuan.
Seperti itulah kau, hinggaplah di dahan tempat embun menggenang, dan jangan kau berlari mencari embun yang meresap dalam tanah.

KEMAUAN ADALAH MOTOR SEGALA KEMAMPUAN, JIKA KITA MAU, KITA MAMPU!!

UNTUKMU WANITA BERMATA JELI

UNTUKMU WANITA BERMATA JELI

Untukmu wanita bermata jeli..
Sadarkah engkau akan indah matamu..
Sedetik ku menatap, serentak seluruh bintang pun berhenti berpijar..
Lihat bola yang dilemparkan anak-anak itu seketika mengambang di udara, kupu-kupu yang hendak hinggap di sekuntum bunga pun terkatung-katung tanpa gerak..

Untukmu wanita yang bermata jeli..
Sadarkah saat engkau melirik tajam padaku, seekor cicak yang mengejar serangga terkekang dalam diam..
Alam pun tahu itu, karena alam bersenandung merdu menatap mata jelimu itu, ya, waktu pun berhenti sempurna..
Dan aku, hanya mampu tuk memuji dan menyampaikan salam ini untukmu, hanya untukmu, wahai wanita bermata jeli..
Bolehkah aku memiliki mata itu?