Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2012

BERKELANA MENCARI BEBEK SAMBEL TUGU PAHLAWAN


Oke, lanjut coret-coret dinding blog aaahhh… padahal baru kemarin rasanya dinding blog ini sudah aku nodai dengan tulisan, ya, semoga bisa istiqomah ngeblog tiap hari. Ahahai..
Kisah ini bermula, once upon a time in Surabaya, ketika itu menunjukkan jam 17:50 WIB tiba-tiba seorang hokage, sebut saja raikage dwitama mengirim pesan lewat chat FB “ayo mangan ambek arek2 (artinya : ayo makan sama man teman ta’iye),  oke, karena rasa persahabatan yang tinggi akhirnya saya bersedia, itung-itung jalan-jalan lah, kebetulan malam ini “Raikage Dwitama” mengajak makan di Bebek Sambel dekat Tugu Pahlawan, time by time alias waktu ke waktu akhirnya rombongan pencari makan “Sambel bebek” datang dengan membawa armada 3 buah motor HONDA tepat di depan kos, oke perkenalkan kami yang BERKELANA untuk perang melawan “Sambel Bebek” ada 6 orang:

1.       Yang pertama, M. Baqir Assegaf, sebut saja “Onta”, dia adalah pemain sepakbola jebolan La Masia (Katanya..), wajahnya sangar, tapi sayang akhir-akhir ini cinta asmaranya menemui jalan buntu karena “Mawar yang akan dipetik telah menjadi milik lebah yang sama, dulu”. Hahhaa
Penghulu Nikahan
Ini penampakan Baqir

2.       Yang Kedua, Avief Nurrokhim alias Gervinpep, dia adalah salah satu calon walikota yang gagal dalam pemilihan namun akhirnya terpilih jadi anggota DPR, mungkin karena tampangnya yang mirip ahmadinejad (mekso titik gapopo) hingga akhirnya bisa jadi anggota DPR. Hahaha Ini Penampakan Apep
Apep Ahmadinejad

3.     Yang Ketiga, Arifuddin Wahyudi, yang akrab dipanggil “Arwah’, termasuk golongan orang langka karena punya ekor berjumlah dua, kalau gak percaya silahkan dicek sendiri letak ekornya. Ini penampakan Arwah
Arwah Sang Pecangkul Hati

4.       Yang Keempat, Saudala Maulana Muhammad AL Hanief, atau lebih sering dipanggil hanyip, punya kelebihan khusus yakni ilmu “Mbatin” yang hebat, baik hati, ramah (eh.. lamah) dan yang terpenting adalah solider sama sesame manusia. Ini penampakan Hanyip
Hanyip SM@$h

5.  Yang Kelima, Raikage Dwitama, orang tertua di rombongan sepertinya, dia punya tubuh berotot, tegar, dada bidang, gak jauh beda sama Arnold schwezinegger, tapi saying karena tak kunjung mendapatkan pacar bahkan menjurus homo, penampakkannya berubah menjadi seperti ini
DWIT"HOMO" KARISMA

6. Yang Terakhir, Terganteng dan Terimut adalah saya sendiri, orang memanggil saya “qifni” atau “kipli”, tak perlu dijelaskan tentang saya, biarlah saya menjadi dieri saya sendiri, dan yang bisa menilai saya hanya kalian para pembaca tercinta (*titik dua bintang*), Ini penampakan saya
?????

Lanjut, bercerita, lantas setelah  kami menaiki armada masing-masing, saya dengan Hanyip, dwitma dengan Arwah dan Apep dengan Onta, kami pun lekas menuju TKP, ini gambar saat kami menikmati sang bebek, nyam nyam nyam sluurrrp jare baqir..

Karena tujuan kami makan telah berhasil kamipun memutuskan untuk pulang, namun tiba-tiba seekor teman kami (maklum yang ikut BERKELANA mala mini punya ekor semua, tapi entah dimana) nyeletuk untuk foto-foto di Tugu Pahlawan, maka kami putuskan untuk jepret-jepret disana, dan lagi-lagi kami Cuma punya motto “Wes Gak Usah Ngreken Isin, Wong Gak Kenal Ae kok”, akhirnya sesi foto-foto dengan 6 model majalah “ANIMAL” pun berlangsung khidmat dan penuh penghayatan, hingga pada akhirnya jam menunjukkan 20:41 kamipun melangkah pulang.

Ditengah perjalanan pulang, langit seperti enggan mengikhlaskan kami pulang ke KOS karena mereka menangisi kepergian kami dengan hujan yang deras, dan basah kuyuplah kami, ehh gak kami, Cuma aku dan hanyip.. yang kalian  bawa jas hujan, sedangkan saya dan Hanyip berjaskan angin dingin malam,,, (SALAM ASULOLE)

Aku ganteng dewe



Gak jelas kabeh

Peresmian Tugu Pahlawan Oleh Presiden RI Ke 12

Belajar Dadi Model Cover Album Boyband

Pose Dengan Background Tugu Pahlawan

Cherybelle "IN ACTION"

Koyok Band Malaysiaan

*JOMBLO*

Generasi Bukan Patah Hati

Ini Amati dan Resapi Bapaakkk




Susana Hujan Ketika Pulang


Yess, ini cerita malam ini, dilanjut besok tentang futsall… slurp slurp slurp… 14ribu untuk PAHA BEBEK SUPER 2ribu untuk ES TEH (isek utang apep) dan Gratis untuk PARKIR (dibayari Sang Maestro La Masia “Baqir”)

Minggu, 13 November 2011

BALADA RINGKIH JALANAN

Gemericik suara air yang mengalir dari belakang rumah masih terdengar bersimfoni dengan nyanyian para serangga, dan aku pun masih belum mampu merajut mimpiku kembali, entah ken apa, mungkin tumpukan folio bergaris dan laporan-laporan yang menggunung di atas meja kerjaku menanti tanganku untuk mencumbu mereka walau sejenak.

“Cttaaaaarrrr”, Lamunanku buyar oleh suara yang begitu keras dari kamar depan yang tak lain adalah kamar ibuku, aku pun lari dengan setengah kesadaranku menuju kesana. Ketika kubuka tuas pintu dan mulai kuputar,tiba-tba yang kulihat hanya hitam dan kegelapan.

_______________________________________________________________________________________________

Pagi ini, seperti biasa aku duduk berteman segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng buatan ibu, sekilas Nampak jam dinding menunjuk jam 5 pagi, ya memang masih begitu pagi untuk orang tak berpekerjaan seperti aku membayangkan sebotol vodka atau mungkin squash punch menggantikan segelas the hangat, atau barangkali membayangkan semangkuk mie ramen khas hokaido mengeliminasi pisang goreng buatan ibuku,tapi pagi ini ada yang berbeda, terlihat dari kejauhan kerumunan orang tak lelah-lelahnya berbicara dengan wajah serius dan mungkin hanya sesekali diselingi sebuah senyum, Nampak diantara mereka seorang gadis cantik yang tak lain adalah Syifa’, gadis yang selama ini menohok jantungku kala aku mendengar langkahnya, gadis yang mampu membuat darahku berhenti mengalir kala aku melihat bayangannya,

Ku beranikan diri untuk melangkah berkumpul dengan kerumunan orang tersebut untuk sekedar mencari tahu apa yang mereka bicarakan,ya mungkin juga bisa sesekali mencuri pandang bayangan Syifa’ dari dekat.

“Ngapunten pak, bu, ada apa pagi-pagi kok udah rame kayak gini??

“Ini lho nak, katanya pagi ini ada petugas dari dinas kenagakerjaan mau datang ke kampung kita, denger-denger mau ngasih pelatihan gratis buat para pengangguran di kampung kita, ya otomatis kami yang ibu rumah tangga mau ikut” Jawab Bu Tantri, seorang ibu rumah tangga yang tinggal 30m dari rumahku, menjawab pertanyaanku. Spontan saja aku berteriak “yes”.

Sayup-sayup terdengar suara deru mesin mobil tak jauh dari tempat kami berbicara, Nampak olehku sesosok pria yang familiar.

“ Mana Udin??? Mana Udin??” Teriak pria itu memecah kerumunan.

“Mana Udin???, Aku butuh dia, Cepaaat!!!”, Kami pun kalang kabut mencari keberadaan si Udin.

Tak lama kemudian, Udin muncul dengan mata masih merah dan berpakaian layaknya tarzan, bercelana pendek warna hitam tanpa mengenakan baju, aku masih ragu apa benar ia bercelana pendek hitam karena sepagi itu aku masih sulit membedakan mana celana mana kulit.

“Din, bapak butuh 2 pemuda lagi untuk menemanimu bekerja di pabrik bapak, kamu cariin ya!!!”

“iyyy..yy..yyaa ppaakk” jawab Udin dengan gaya gagapnya yang azis gagap pun tak mampu menirunya.

Setelah itu pria itu pergi entah kemana, tanpa pamit dan tanpa memberi uang saku sepeserpun pada Udin.

“Jjjejejjangkkrrrik”, Gerutu Udin.

_____________________________________________________________________________________________

Ayam di samping rumah masih berkokok dengan lantangnya dan embun pun masih membasahi sandal yang akan kupakai untuk sejenak mengingat Tuhan pencipta sekalian alam, ya, adzan subuh telah terdengar beberapa saat yang lalu, Tak lama berselang, terdengar ketukan pintu yang cukup keras dari luar disertai teriakan “Mmmooo, aku udin, ini barangnya” (karena penulis kecapekan nulis gaya udin yang gagap, setelah ini udin jadi normal).

“Iya din, tunggu, aku wudhu dulu” Timpalku,

Setelah wudhu, kubukakan pintu menyambut kedatangan Udin,

“Ini Mo, barang yang kujanjikan semalam” Udin mengeluarkan bungkusan hitam berisi alat-alat yang mungkin tak asing bagiku, ada google, sarung tangan latex dan masker gas, sebagai sarjana lulusan teknik kimia mungkin barang ini sedikit lebih familiar dibandingkan suntik dan stetoskop.

“Aku mulai kerja kapan din???”.Tanyaku pada Udin yang masih setia dengan celana pendek hitamnya.

“Kata Bapak Tebe, kamu bisa kerja mulai pagi ini, ntar Andri aku kasih tahu juga” Jawab Udin tanpa basa-basi.

Yap, jadi teringat sebuah ayat Allah “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”

Kali ini aku harus bisa bekerja dengan maksimal.

_______________________________________________________________________________________________

Kulangkahkan kaki menuju tempat berukuran 5x10 meter, kulihat Andri telah sigap dengan peralatan tempurnya, ya, sebagai seorang tukang las di pabrik onderdil motor, kami harus siap dengan sarung tangan latex dan google (kacamata safety untuk las) kami,

“Ndri, kamu ntar pulang bareng siapa???” Tanyaku saat Andri berhenti nge-las sejenak.

“Inyong Pulang Dhewe, Ngapa??”,trans: (“aku pulang sendiri, ada apa sahabat???),Setiap mendengar aksen tegal Andri, seakan wajah Andri yang fotogenik kuanggap sebagai potojenik.

“Boleh bareng gag, kamu tahu kan kalo aku gag da motor, tadi aja berangkat ikut Udin??”

“Ora apa-apa,Inyong malah seneng ana kanca”. trans:(“tak apalah, aku pun merasa senang karena ada sahabat untuk pulang”)



NB:mohon maaf kalau translate tegalnya terkesan alay.:D



Tepat jam 3.45 sore aku dan Andri bergegas untuk pulang, namun apa lacur, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, baru ¼ perjalanan menuju rumah, motor Andri mengalami kram (baca:mogok), akhirnya dengan memohon restu dari Andri, aku melanjutkan perjalanan dengan sarana angkot, awalnya semua berjalan sesuai harapan, namun tiba-tiba “Dhuaaaarrrr” bunyi letusan senapan angin memekakan telinga, kulihat sepasang burung harus menjadi korban keganasan manusia., maaf salah cerita, yang bener, kulihat seorang ibu muda memegangi anaknya dan mempertahankan tasnya yang berisi dompet, tanpa pikir panjang aku turun dari angkot dan mencoba berlari kea rah ibu itu, namun tanpa diduga, sang perampas menembakkan pistolnya kearahku, dengan bantuan elemen udara,aku menghindar dari tembakan, terlambat, udara tak mampu mencegah peluru menembus betisku. Panas,, sakit,, kulihat perampas itu lari menuju arah rel kereta api, dengan tenaga seadanya aku berteriak dan berlari mengejar perampas itu.

“ Bang, Balik oey, ini tasnya ketinggalan, masak susah-susah mau ngerampas gag dibawa”.

Ternyata teriakan barusan hanya lamunanku, aku pun terus berlari mengejar perampas itu, hingga seberang rel kereta api,kejadian yang tak kuduga pun terjadi, Nampak didepanku perampas tersebut membuang pistolnya, aku berpikir mungkin dengan tangan kosong aku mampu mengalahkannya, tak lama berselang, sang perampas berlari kearahku dan berteriak “Matilah kau!!!!!” kulihat kilatan pisau tajam menghunus menuju ulu hatiku, “Crassss”, yang kuingat hanya Gelap dan Hitam.

_________________________________________________________________________________________________

Kulihat ibuku menangis sesenggukan meneriakkan namaku, “Timooo, nak , bangun, ini teh hangat sama pisang gorengnya ibu bikinin special buat kamu, dimakan nak, jangan diam saja”, aku pun melangkah menuju ibuku, dan kucoba menenangkan hatinya, kucoba meminum teh hangat, tapi selalu gagal, kucoba memakan pisang goreng pun tak berbeda, gagal. Entah kenapa, aku berjalan ke ruang tamu kulihat tangisan Syifa’ yang tak kuduga ternyata mengalir disaat seperti ini,walau aku tak tahu ada apa denganku, Bu Tantri, tetangga sebelah, tak berhentinya menenangkan hati ibuku, sambil celometan tangannya memakan pisang goreng, dan sekali lagi aku bertanya, “ada apa denganku???’. Sesaat, kulihat kilatan putih menyilaukan di depan mataku, ketika kubuka mataku lebar-lebar, kulihat ibuku tersenyum dengan senyuman terindahnya, “Subhanallah, begitu menyejukkan hati”, air matakupun mengalir, ingin kupeluk ibuku, namun apa daya, dadaku masih terasa sakit dan ngilu, kucoba memegang tangannya yang mulai berkeriput namun tangan inipun enggan bergerak,kuputuskan untuk sejenak beristirahat, siapa tahu nanti aku akan sehat kembali dan mampu memeluk tubuh ibuku tercinta”

_______________________________________________________________________________________________

“Moo, timooo, bangun nak, kenapa kamu tidur di depan kamar ibu???,nak bangun, udah pagi, kamu belum sholat subuh, ayo bangun nak, ditunggu Udin lho di depan,”.

Aku tak mengerti tubuhku kini terbujur kaku di depan pintu kamar ibuku dan di antara pecahan gelas berisi kopi milik ibuku,

“Innalillahi Wa Inna ‘Ilaihi Raji’uunn, Timoooo” Tangis histeris ibuku mengagetkan Udin yang menunggu di beranda rumah dan membuyarkan kerumunan manusia yang sedang bercengkrama tak jauh dari rumahku, dan sekali lagi, jantung ini berhenti berdetak dan darah ini berhenti mengalir karena Nampak bayangan Syifa’.

SAYANG DAN CINTA TAK PERNAH BICARA (AYAH)

SAYANG DAN CINTA TAK PERNAH BICARA

(AYAH)


Matahari masih malu menampakkan wajahnya, tapi suara panggilan untuk beribadah mulai bersahutan di telingaku, tapi aku masih bergeming dengan keadaanku, guling kupeluk erat, selimut kupasang menutupi seluruh tubuhku, aku lupa kapan terakhir kali aku menghadapNya, sekilas terdengar percakapan antara ibu dan ayah.



“Bu, Chandra mana???”, Suara ayah terdengar begitu lembut, ya, ayahku adalah sosok tua yang terkesan begitu tak berwibawa dimataku, beliau hanya seorang pensiunan buruh pabrik tas yang hanya berijazah paket B, setara SMP.



“Itu di kamar, masih tidur pak, kenapa tho???, biarin aja, tadi dia baru pulang jam 2 kok pak.”,suara ibuku tampak kesal dan tak begitu peduli dengan maksud ayahku.



“Bukannya gitu bu, bangunin dia, suruh sholat, sudah baligh kan dia??”



“Opo tho pak, nanti kalau dia bangun saja baru ibu suruh sholat, wong dulu ustadz Hadi penah ngomong kalau sholat subuh kesiangan itu ndakpapa selama ndak disengaja.”







“Astaghfirullah, ibu ibu..”, Ayah hanya menggelengkan kepala dan pergi menuju surau di dekat rumah, Sedangkan aku masih menutup telinga dan melanjutkan mimpiku.

________________________________________________________________________________

Nampak dari kejauhan seorang pemuda yang sudah tak asing bagiku, kulihat dia menenteng beberapa botol arak (sejenis minuman keras).



“Ton, udah siap duel belum???” Tanyaku dengan nada meremehkan, maklumlah aku termasuk jagoan mabuk di antara anggota gengku.



“Sialan kau Ndra, udah kamu siapin belum tempatnya??” Anton merespons dengan mmik wajahnya yang khas, bayangkan wajah seorang pengangguran yang dompetnya kecopetan maka kamu akan melihat wajah Anton.



“Itu rumahku bisa dipake’, Ibuku lagi ke rumah budheku di Solo”



“Lha Ayahmu??”



“Itu mah Gampang, orang tua bisa diatur, macam-macam sikat”



“Okelah kalo begitu”



Langkah kami seakan diburu, “Sudah tak sabar duel minum nih”, batinku.



Sesampainya di rumah, kupasang posisi ternyaman dan ternikmat sambil sesekali menenggak arak di hadapanku.



Terdengar suara pelan dari dalam kamar ayah, “Ndra, bapak beliin obat di tokonya Bu Aji, kepala Ayah pusing”.



Aku tak peduli dengan permintaan Ayahku, tangan ini masih sibuk meraih gelas dihadapanku dan kulihat Anton mulai teler.



“Ton, Cemen lu, baru segitu udah teler”



“Sialan kau Ndra, $#$%%^$$”, suara Anton seperti piringan hitam yang sedang dimainkan sambil sesekali dijadikan Frisbee setelah itu kulihat ia berbaring.



Dan sekali lagi suara Ayah terdengar tapi lebih keras, “Ndra, bapak beliin obat ya!!”



“Obat apa yah?, obat kuat??. Hahaha..,” Jawabku asal-asalan.



“Ndak nak, beliin obat sakit kepala, Tolong ya”



“Yang sakit kepala Ayah kan??, bukan kakinya kan???, beli sendiri kan bisa.”



Tak lama kemudian Ayah keluar dan tak tahu lagi ia akan pergi kemana.

________________________________________________________________________________

Ilalang di sawah dan semilir angin membuat tubuh ini seakan melayang di antara kapas-kapas pohon randu yang kini beterbangan bersama angin di depanku,sesekali mulut ini menguap, tapi kantuk ini harus kutahan karena mungkin tak lama lagi orang yang kutunggu datang.



“Mas Chandra ya???”,Suara lembutnya tak berubah,masih sama seperti dulu.



“Dek Pendi ya??? Hahahaha”,Gurauku padanya.



“Ngawur sampean mas, gimana kabarnya??? Udah punya istri??” Pertanyaan yang menohok, walaupun aku ganteng tapi entah kenapa tak ada seorangpun yang mau aku nikahi.



“Alhamdulillah baik, kalau istri, ini di depan mata mas”. Godaku padanya, kulihat wajahnya memerah, mungkin karena kepanasan atau apalah aku gag tahu.



“Mas ini bisa aja, masa’ orang sehebat mas mau sama eks-PRT kayak Suci sih”, Begitu setrusnya obrolan kami tak berhenti, mulai dari kegiatan selepas lulus SMP hingga masalah Gayus di Balipun kami omongkan.



Ya, Suci adalah cinta pertamaku di SMP dulu, mungkin nasibnya tak sebaik aku yang mampu lulus S1 2 tahun lalu, dia hanya tamatan SMA kelas 2, yang aneh bagiku, kenapa dia belum menikah, padahal kebanyakan teman-temanku yang hanya ‘protolan’ SMA kurang dari 1 tahun ke’protolan’nya, mereka sudah menikah.



Tak terasa sudah hamper 2 jam kami mengobrol, hingga muncul sebuah pertanyaan, “Mas Chandra, gimana qiro’ahnya?? Masih sering juara??”



Aku pun berpikir, entah kapan terakhir kali aku membuka kitab suciku itu, aku lupa.



“Ehm..terakhir kali ya waktu kelas 1 SMA dulu, kamu inget kan??”



“Lho iya ta??, padahal dulu sudah se-provinsi ya”, kulihat wajah tak percaya di balik jilbab putihnya.



Aku pun menyudahi pembicaraan,“Ayo pulang yuk, sudah sore, bentar lagi sudah maghrib”



Maghrib, kata yang sepertinya sudah asing di telingaku namun kenapa harus muncul dari mulutku???, sejak saat itu, Suci menempati hatiku lagi.

________________________________________________________________________________

Jarum jam dinding menunjukkan pukul 13.00 dan aku masih sibuk dengan tugas kerja yang menumpuk di meja, hingga telpon berdering membuyarkan konsentrasiku.



“Hallo, disini Chandra, ada yang bisa dibantu???”



Terdengar suara lembut dari ujung telpon “Mas, aku dijodohkan” setelah itu terdengar suara gagang telpon dibanting ke tempatnya. “tut tut tut”.



Seakan puluhan ribu durian runtuh di kepalaku dan hati ini retak layaknya kaca yang disiram es dan air panas.



Aku bingung harus bagaimana. kuambil sebatang rokok untuk sedikit menenangkan pikiranku

________________________________________________________________________________

Kuberanikan diri melangkah menuju rumah bercat biru muda itu sendirian, kulihat seorang pria tua duduk di teras rumah itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah Ayahku.



Apa yang ada di benakku adalah hal yang buruk, karena ayah tak pernah setuju aku mencintai Suci, entah kenapa.



“Ayah kenapa disini??’ Tanyaku dengan nada sedikit membentak.



“Ini lho ada urusan sama Pak Pendi kok” jawabnya tenang.



“Urusan apa??? Mau minta Pak Pendi melarang Suci ketemu aku?? Aku terus memburu Ayahku dengan pertanyaan-pertanyaan.



“Sabar tho lhe, Ayah cuma pengen silaturahmi dengan Pak Pendi kok”



Aku pun terdiam dan pergi meninggalkan Ayahku, sekali lagi aku kecewa dengan Ayahku.



Niatku untuk memberanikan diri melamar Suci pun ku urungkan, karena pasti Ayah menolak dengan keras rencanaku.

________________________________________________________________________________

Jalanan menuju kantorku tampak tak seperti biasanya, tampak macet pagi ini, bayangan akan laporan kerja pun seakan terkikis dengan rasa capek dan gerah akibat macet ini, bahkan bungkusan nasi yang kubawa pun telah menjadi bungkusan biasa yang tak menggiurkan lagi bagiku.



Nampak di kejauhan aparat berpakaian coklat ditutupi rompi hijau cerah sedang mengatur lalu lintas, tak jauh dari tempatnya, terlihat olehku kerumunan manusia menatap nanar dan kasihan, entah apa yang sedang mereka tatap, aku pun tak mau tahu, karena itu bukan urusanku, saat ini yang ada di pikiranku hanya, “kapan bisa nyampe’ kantor??’, kulihat jam tanganku, sudah menunjuk angka 06:50, aku pun mulai menggerutu dan mencaci.

Ketika sampai di ujung jalan yang mulai lengang, ku tancap gas menuju tempat berfantasiku, kantor.

________________________________________________________________________________

Meja di tempat kerjaku masih seperti biasa, kertas bertumpuk dan jadwal rapat pun seakan memangkas waktu luangku, maklum perusahaanku sedang ada proyek besar, dapat tender membuat software anti mafia hukum, ketika ingin ku sandarkan bahu di kursi kerjaku, ponselku berdering melantunkan suara khas bang haji rhoma irama dengan petikan gitar mengiringi bergulirnya lagu Judi.

“Nak Chandra, Ayahmu nak, Ayahmu,” Suara wanita yang sudah paru baya terdengar lirih.

“Ini Siapa?? Ayahku kenapa??”

“Ini Bu Aji Nak, Ayahmu kecelakaan di ujung jalan waktu mau menyeberang beli obat”

“Keadaannya Gimana??”

“Ibu kurang tahu nak,Maaf”

“Trus Ayah dimana sekarang??”

“Tadi dibawa ke RS Harapan Ayah,ditemani pak ketut”

“Yauda Bu Makasih infonya, nanti pulang kerja saya kesana”

Obrolan kami tak berlangsung lebih lama karena bel ruanganku berbunyi, entah siapa yang datang kali ini.

Ternyata Ibuku datang dan tanpa dinyana kontan dia menangis histeris di atas meja kerjaku, dan aku hanya terpaku dan tak tahu akan berbuat apa, ibu yang kuanggap sebagai wanita kuat layaknya margareth thatcher, untuk pertama kalinya menangis di depan mataku, “Kenapa Bu???” Tanyaku keheranan,

“Ayahmu meninggal nak, barusan dan yang belum sempat Ibu kabulkan adalah kamu nak,”

“Innalillahi,Maksud ibu??”, aku masih setengah tak percaya, karena barusan ada yang member kabar kalau Ayah di RS,

“Ia memanggil namamu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dan entah apa yang ia igaukan tentangmu Nak”

Aku masih tak percaya, “kok bisa bu, ibu gak bercanda kan??”

Sekali lagi ponselku berdering, “Assalamu’alaikum, Innalillahi Wa Inna ‘Ilaihi Raji’un, Nak, Ibu barusan dapat telpon dari Pak Ketut kalau Ayahmu meninggal.

Saat itu seakan bumi terbelah, hapeku terjatuh dari genggaman.

“Innalillahi Wa Inna ‘Ilaihi Raji’un” Suaraku lirih menahan kaget yang teramat sangat.

Setelah itu aku pun menangis dipelukan Ibuku,

________________________________________________________________________________

Mataku masih sembab, tak percaya dan merasa bersalah atas yang terjadi pada Ayahku, ya,hari ini tepat 7 hari meninggalnya beliau dan hari-hariku terasa berbeda, tak ada lagi sosok yang bertanya “darimana Nak??’, “Udah Sholat Nak??”, “Kamu gag istirahat dulu??”, dan aku merasakannya begitu sangat berbeda, aku kehilangan sosok lemah lembut itu, dan yang lebih memprihatinkan, Ibu yang biasanya setiap pagi menyiapkan teh hangat dan obat untuk Ayah, hanya termenung di atas kursi kayu favorit Ayah.



Untuk kali pertama setelah bertahun-tahun, aku membuka qur’an dan ku membaca surat luqman, tentang nasihatnya kepada anaknya, dan sekali lagi airmata ini menetes mengingat segala Nasihat Ayah yang tak pernah kudengar dulu.



Ya, Tak pernah kudengar memang, timbul penyesalan yang mendalam tentang segala hal yang berhubungan dengan Ayah, tentang permintaannya membeli obat.



Disaat lamunanku dan kenanganku menyeruak, aku terkejut dengan sebuah SMS dari Suci.







Sender : Suci Cute



Number : 085648639469



Date : 20-11-2010







Mas, Bapak selalu menekan aku tentang perjodohan, aku risau dengan perjodohanku, aku tak tahu menahu tentang jodohku, aku butuh keberanianmu mas. Aku menyayangimu karena ALLAH mas.



Semoga ALLAH menyatukan kita. Amieeenn,,,,







Sontak aku bimbang antara menangisi atau mencoba berusaha, demi Suci dan Aku. Tapi semangat ini sedang berada di bawah, apa yang harus kulakukan ya ALLAH???, sejenak aku berdiri dan menuju kamar mandi, aku ingin mendekat lagi padaNya, entah aku juga lupa kapan terakhir kali aku sholat dhuha.

________________________________________________________________________________



Pagi ini aku bersiap menuju rumah Suci, ada sedikit ganjalan di hati, seandainya nanti Pak Pendi marah atas kedatanganku apa aku harus melawan??? Atau aku harus pergi, lari dari cintaku??



Ahh, itu dipikir nanti saja, sekarang yang penting niatku baik. Selama perjalanan menuju rumah Suci, tak henti-hentinya aku berdo’a, semoga Suci adalah jodohku. Sesampainya di depan rumah Suci aku menghela nafas panjang, Namun yang mengagetkanku , Pak Pendi menyambutku dengan senyuman lebarnya.



“Alhamdulillah Nak, kamu datang, gimana kabarmu??” Ucap Pak Pendi membuatku semakin kaget dan bingung.



“Baik Pak, Alhamdulillah,” segala skenario yang kupersiapkan untuk menghadapi kemarahan Pak Pendi hilang seketika berganti kebingungan menghadapi keramahan Pak Pendi.



“Bapak Udah lama nunggu kamu datang, Bapak ikut berduka cita ya atas meninggalnya Ayahmu”



Dengan wajah sok tegar aku menjawab “ Ya Pak, makasih, doakan Ayah saya ya Pak”



“Pastinya Nak, Gimana kerjamu??”



“Alhamdulillah lancar Pak”, aku bingung mau bertanya apa, hanya kekakuan menggelamutiku.



Setelah Tanya ini itu, aku tersadar, tumben Suci tak muncul membawa nampan berisi teh hangat seperti dulu, aku memberanikan diri bertanya, “ Suci kemana pak???”



Dengan tenang beliau menjawab, “Wah, sudah gak sabar lihat calon istri ya???”



Aku semakin bingung, “Maksud bapak??”



“Lho kamu belum tahu ya??? Mungkin Ayahmu belum sempat bicara padamu”



Aku tak mengerti apa yang Pak Pendi katakan.



“Beberapa minggu yang lalu, aku dan Ayahmu bicara empat mata soal perjodohanmu dengan Suci, beliau bilang akan meminta kamu melamar Suci secepatnya, tapi ALLAH punya kehendak lain Ndra”



Tak terasa, airmata mengalir dari kedua mataku, berlinang melewati pipiku, aku menyesal dengan segala prasangka burukku ke ayahku dulu, semakin sakit hati ini mengingat dosaku kepada Ayahku.



Dengan berlinang airmata aku berkata pada Pak Pendi, “Pak, izinkan saya menikahi Suci minggu depan”



Pak Pendi tersenyum dan berkata “ALLAH mencintaimu Ndra”

________________________________________________________________________________

Tepat tanggal 12 desember, berhadapan dengan penghulu di hadapanku dan Suci, masih bersembunyi dibalik ruangan ini, ya, sebentar lagi dia akan menjadi pendampingku mendekatkan diri kepada ALLAH.



Saat yang mendebarkan itu datang, “Ananda Chandra udah siap???” Tanya sang penghulu padaku, aku hanya menganggukkan kepala tanda siap.



“Saya nikahkan Muhammad Chandra Bin Abdul Halim dengan Suci Indah Rahmawati binti Maulana Ependi dengan mas kawin uang 2 juta rupiah serta seperangkat alat sholat dibayar tunai”



“Saya Terima Nikah dan Kawinnya Suci Indah Rahmawati binti Maulana Ependi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”



Gemuruh para saksi berteriak “Saaahhhhhhhhhhh”



Aku tak sabar untuk malam ini pikirku.



Malam ini aku telah berjanji pada Suci, di malam pertama pernikahan kami, kami akan ziarah ke makam Ayah, dan berdo’a disana memohon restu Ayah yang tak sempat aku dengarkan dari suara lembutnya.



“Ayah, Jikalau engkau masih bersama kami, akan kami jadikan engkau sebuah lentera yang akan menjadi sarana penerang pernikahan kami oleh cahayaNya dan menjadi sarana penunjuk arah dalam masalah pernikahan kami di jalanNya. Ayah, kami berjanji pada diri kami bahwa namamu akan kami jadikan nama anak laki-laki pertama kami kelak.”



“YA ALLAH, jadikan ayahku penghuni surgaMu dan ibuku sebagai pelayan di surga untuknya, dan ampunilah dosa mereka sebagaimana cinta kasih mereka kepada kami disaat kami masih kecil”







TAMAT



Surabaya, 20 nopember 2010



27B @8A



19:08



Untuk Abah dan Bunda serta wanita yang suci hatinya



Mohon Sarannya Lagi..